Jepang Meningkatkan Level Bahaya Radiasi Nuklir

Pemerintah Jepang melalui Komisi Keselamatan Nuklir telah meningkatkan tingkat bahaya radiasi nuklir akibat kerusakan PLTN Fukushima Daiichi ke level tertinggi, demikian dilaporkan “NHK”.Level tujuh yang merupakan level bahaya radiasi nuklir tertinggi hanya pernah ditetapkan saat bencana Chernobyl tahun 1986. “Ini (level tertinggi) merupakan perhitungan awal, dan hasil akhirnya akan disampaikan Badan Energi Atom Internasional )IAEA),” kata seorang pejabat Badan Keselamatan Nuklir dan Industri (NISA), seperti dilaporkan “Reuters” dan dilasnsir “BBC”.Namun pejabat yang tidak disebutkan namanya itu mengatakan jumlah radiasi nuklir yang bocor besarnya hanya sepersepuluh dari tragedi Chernobyl.

Keputusan untuk meningkatkan level risiko radiasi nuklir itu dibuat setelah radiasi sebesar 10.000 terabequerel per jam terdeteksi di pembangkit yang hancur itu selama beberapa jam.Kondisi itu, menurut Skala Peristiwa Radiologi dan Nuklir Internasional (INES) sudah masuk katagori level tujuh atau level tertinggi. Namun sebuah laporan lain menyatakan bahwa tingkat radiai kini sudah menurun hingga kurang dari satu terabequrel per jam.

Sejauh ini, tingkat risiko radiasi nuklir di Jepang ditetapkan dalam level lima yang sama dengan level radiasi saat PLTN Three Miles Island di Amerika Serikat bocor tahun 1979. Selain meningkatkan level radiasi ini, pemerintah Jepang memperluas zona evakuasi dari lokasi pembangkit akibat kekhawatiran meningkatnya radiasi.Komisi nuklir Jepang sesuai hasil perhitungan sementara, tingkat kumulatif radiasi melampau batas toleransi yaitu 1 milisievert per tahun di radius 60km ke sebelah utara dan 40km ke selatan PLTN.

Senin (11/3) Jepang kembali diguncang gempa berkekuatan 7,1 skala richter dan mengakibatkan tiga orang meninggal dunia dan memicu alarm tsunami.Selain itu, para pekerja yang tengah berupaya memperbaiki PLTN Fukushima Daiichi terpaksa dievakuasi. Sistem pendingin PLTN Fukushima Daiichi hancur akibat gempa dan tsunami yang menghantam Jepang bulan lalu. Para pekerja kini tengah berupaya mengendalikan suhu sejumlah reaktor nuklir di PLTN tersebut. Selain merusak PLTN Fukushima, gempa dan tsunami menyebabkan lebih dari 28.000 orang tewas atau hilang serta 150.000 saat ini menjadi pengungsi.

Kecelakaan Reaktor Nuklir Daiichi Akibat Gempa dan Tsunami tak Seburuk Kecelakaan Three Mile Island

Badan keselamatan nuklir Jepang memberikan peringkat 4 pada kerusakan di pembangkit listrik tenaga nuklir di Fukushima, empat pada skala satu sampai tujuh, yang berarti ini tidak seburuk kecelakaan Three Mile Island di Amerika Serikat pada 1979, yang mencatat skala lima.

Lalu apa artinya?

Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) menyebutkan bahwasanya pemberian skala itu untuk mengkomunikasikan kepada publik dengan cara yang konsisten signifikansi keselamatan pada peristiwa insiden atau kecelakaan nuklir dan radiologi.

Menurut INES (International Nuclear and Radiological Event Scale) skala berkisar 1-7 di mana keadaan paling serius diberi skala tujuh disebut sebagai “kecelakaan besar”, sementara satu adalah sebuah “anomali”. Skala ini dirancang sehingga tingkat keparahan dari suatu peristiwa sekitar sepuluh kali lebih besar untuk setiap kenaikan tingkat. Sehingga skala 5 pada peristiwa Three Mile Island adalah sepuluh kali lebih parah dari skala 4 pada peristiwa Fukushima.

Peristiwa Chernobyl di Ukraina pada tahun 1986, merupakan satu-satunya kecelakaan nuklir terburuk yang pernah ada, dan diberi skala tujuh. Itulah satu-satunya peristiwa yang diklasifikasikan sebagai kecelakaan terbesar dalam sejarah tenaga nuklir, meledak karena adanya lonjakan daya yang tak terkendali dan tekanan uap yang tinggi merusak teras reaktor, mengeluarkan awan radioaktif yang menyelimuti Eropa.

Sementara itu, pada kecelakaan di Three Mile Island di Pennsylvania, terjadi pelelehan parsial bagian teras reaktor, di mana kelongsong logam bahan bakar mengalami pelelehan. Kelongsong logam itu mengelilingi pelet bahan bakar uranium keramik, yang berfungsi menampung sebagian besar radiasi yang dihasilkan dari bahan bakar reaktor dari reaksi fisi. Reaktor nuklir ini beroperasi pada rentang antara 550 dan 600 derajat F (antara 288 dan 316 derajat C). Kelongsong logam pada batang bahan bakar tidak akan meleleh sampai suhu di atas 1000 derajat F. Sedangkan pelet keramik uranium mampu bertahan tanpa meleleh sampai sekitar 2000 derajat.

Pada peristiwa itu, sekitar separuh dari bagian teras reaktor di Three Mile Island telah meleleh sebelum operator memperoleh cukup waktu untuk memulihkan jumlah air pendingin air untuk menghentikan krisis itu. Teras berfungsi memegang batang bahan bakar uranium, yang harus didinginkan dengan air agar tidak terlalu panas dan terhindar dari pelelehan.

Lalu apa yang terjadi di Fukushima?

Ledakan di reaktor 1 Daiichi terjadi sebagai upaya untuk mengurangi tekanan uap di dalam teras yang sedikit mengandung radioaktif (tipe reaktor Daichi adalah BWR) setelah reaktor mengalami loss of power pada generator yang berfungsi menyuplai air pendingin ke teras untuk menghindari teras mengalami overheating. Dalam hal ini peristiwa ini dikenal sebagai station blackout. Artinya hilangnya tenaga listrik di luar plant lalu secara berkesinambungan mengakibatkan kegagalan sistem listrik darurat dan generator diesel. Peristiwa ini merupakan peristiwa yang sangat jarang terjadi, namun demikian menjadi salah satu yang sangat diperhaikan selama beberapa dekakde.

Ledakan itu menimbulkan kekhawatiran akan bencana terjadinya pelelehan teras, yang secara otomatis ditutup setelah gempa, meskipun pemerintah telah menegaskan bahwa tingkat radiasi di sekitar site rendah.

Lokasi dan apa sebab yang pasti terkait ledakan itu masih perlu diteliti, para ahli pun kini dimintai keterangan tentang insiden itu.
Beberapa contoh yang diambil dalam pemberian peringkat 4 menurut INES itu diambil  termasuk kejadian fatal overexposure para pekerja ketika terjadi insiden pada fasilitas nuklir Tokaimura, Jepang pada tahun 1999 dan peristiwa pelelehan salah satu saluran bahan bakar di dalam teras, walalupun tak sampai terjadi pelepasan radioaktif ke luar situs pada insiden di Saint Laurent des Eaux, Perancis pada tahun 1980.

Sumber: Huffington Post, Scientific American

Kebijakan Energi Eropa dan Strategi Perubahan Iklim

Komisi Eropa telah mengadopsi strategi sepuluh tahun penggunaan energi, dengan garis besarnya adalah memainkan peran nuklir sebagai sumber energi dalam hal sumber energi rendah karbon.

Sebuah “Komunikasi” berjudul Energi tahun 2020, Sebuah strategi untuk energi berkelanjutan yang kompetitif dan aman dimulai dengan menempatkan penekanan dramatis pada energi yang memainkan peran di masyarakat dan pentingnya modernisasi dalam generasi dan penggunaan: “. Harga kegagalan adalah terlalu tinggi.”

Isi dokumen mencatat bahwa kebijakan energi Uni Eropa telah berkembang dalam hal ide-ide keamanan pasokan, daya saing dan keberlanjutan, semua yang sekarang diabadikan dalam Perjanjian Lisbon sebagai tujuan utama. Sementara itu, ada kebijakan ’20, 20 pada 2020’ bertujuan untuk mengurangi emisi karbon sebesar 20%, meningkatkan efisiensi 20% dan peningkatan penggunaan  energi terbarukan untuk memasok 20% dari total kebutuhan energi pada tahun 2020. Tujuan pertama bisa meningkat menjadi 30% jika negara maju lainnya membuat perjanjian serupa.

Namun strategi yang ada saat ini tidak mungkin untuk mencapai semua target 2020, dan ini sepenuhnya tidak memadai untuk tantangan jangka panjang. Dalam dokumen disebutkan

Keamanan pasokan energi internal dirusak oleh keterlambatan dalam investasi dan kemajuan teknologi. Saat ini, hampir 45% dari pembangkit listrik Eropa bila didasarkan pada sumber energi rendah karbon, terutama nuklir dan PLTA. Bagian dari Uni Eropa bisa kehilangan lebih dari sepertiga kapasitas generasi mereka pada tahun 2020 karena terbatasnya umur hidup instalasi. Ini berarti harus dilakukan dengan menggantikan dan memperbesar kapasitas yang ada, menemukan bahan bakar non-fosil alternatif yang aman, mengadaptasi jaringan untuk sumber energi terbarukan dan mencapai market energi yang benar-benar terintegrasi. Pada saat yang sama negara anggota juga masih perlu untuk menanggulangi masalah bahaya terhadap lingkungan.

Dokumen juga menyatakan bahwa kebijakan energi Uni Eropa harus dikembangkan karena peningkatan keterhubungan negara anggota. Energi mix yang optimal, termasuk pengembangan energi terbarukan, untuk kebutuhan pasar benua setidaknya.

Strategi Eropa adalah untuk menjadi salah satu kebijakan yang berorientasi pada sisi permintaan, decoupling pertumbuhan ekonomi dari penggunaan energi. Skema Perdagangan Emisi harus digunakan untuk merangsang penghematan energi dan investasi energi rendah karbon yang lebih besat yang akan mengeksploitasi generasi energi baru dan teknologi penyimpanan – maupun sebagai transportasi listrik. Salah satu sektor yang dapat mendorong ini melalui belanja publik, skitar €1500 milyar per tahun – atau sekitar 16% dari PDB UE sesuai dengan dokumen ini.

Di sisi penawaran, generasi energi rendah karbon harus tumbuh hingga 60% dari pasokan pada awal 2020, naik dari 45% pada saat ini. Tenaga nuklir saat ini adalah penyumbang terbesar energi rendah karbon sebesar 30% dari keseluruhan pasokan, diikuti oleh tenaga air yang besar, dan pertumbuhan energi terbarukan yang terlihat mengalamai peningkatan.

Nuklir harus dinilai “secara terbuka dan objektif” oleh negara-negara anggota dengan prioritas pada keselamatan serta pengelolaan limbah. Plant generasi berikutnya berpotensi memberikan sumber panas untuk kebutuhan proses yang lebih besar, sementara fusi melalui proyek Iter adalah untuk jangka panjang.

Ide Komisi Eropa untuk meningkatkan kinerja energi nuklir di blok 27-negara termasuk memperluas kerangka hukum untuk keselamatan dan keamanan. Selain penelaahan atas Keselamatan Nuklir Directive, baru-baru ini Limbah Nuklir Directive dan adopsi standar IAEA di seluruh benua, ada juga “proposal untuk pendekatan Eropa tentang rezim kewajiban nuklir.” Komisi juga menginginkan “harmonisasi lebih besar dari desain plant dan sertifikasi,” yang harus “aktif dikejar.”

Sebagai tanggapan terhadap negara lain ‘mendorong untuk mengekspor teknologi nuklir mereka ke pengguna teknologi nuklir baik yang baru maupun yang sudah ada” peneliti dan perusahaan Uni Eropa perlu meningkatkan upaya mereka untuk tetap berada di garis depan boomingnya pasar energi internasional, agar dapat saling menguntungkan, mereka harus meningkatkan kerjasama dengan negara-negara ketiga dalam teknologi yang spesifik. “

Sumber radioaktif hilang

Tujuh sumber radioaktif cobalt-60 (Co-60) telah hilang dari pengecoran besi bekas di Polandia – media di negara ini sepertinya ‘ingin’ untuk menjadikan mereka menyoroti akan pentingnya pengendalian bahan radioaktif.

Penemuan ini dimana kontainer timbal penampung radioisotop telah hilang selama dibuat pada tanggal 4 November saat pemeriksaan rutin lokasi pengecoran besi Ursus bangkrut di Lublin oleh regulator dari Badan Tenaga Atom Nasional Polandia (Panstwowa Agencja Atomistyki, PAA). Setelah memverifikasi daftar sumber hilang, PAA’s Centre for Radiation Emergencies (CEZAR) memberitahukan kepada Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Komisi Eropa, Dewan Negara-negara Laut Baltik, dan negara-negara lain yang terkait dengan Polandia melalui keselamatan nuklir bilateral dan perjanjian proteksi radiasi pada tanggal 7 Desember.

Tujuh sumber Co-60 berbagai tingkat aktivitas dengan rentang antara 9 hingga 20 MBq tidak berbahaya selama mereka tetap dalam wadah PrJ20, yang beratnya sekitar 40kg dan ukuran "kira-kira 30-40 cm". Hilangnya sumber radioaktif Polandia ini telah diklasifikasikan sebagai Kategori 4, demikian menurut rincian yang diposting pada acara IAEA’s Nuclear Events Web-based System (NEWS) – yaitu, sangat tidak mungkin untuk dapat menyebabkan kecelakaan permanen, meskipun mungkin cukup untuk sementara melukai seseorang yang mengalamai kontak dengan bahan itu jika tidak dikelola dengan aman atau cukup aman dilindungi.

Hilang atau dicuri?

Radioisotop digunakan dalam berbagai proses industri dan medis. Co-60 dapat digunakan dalam berbagai aplikasi termasuk pengukur di tanur tiup untuk mengukur kinerja tungku. Hal ini juga dapat digunakan untuk sterilisasi gamma, radiografi di industri, switch pengukur kepadatan dan ketinggian. Penggunaanya yang luas di banyak negara di seluruh dunia maka adanya penemuan hilangnya sumber radioaktif tersebut dinilai merupakan sesuatu hal yang serius oleh IAEA dan negara lain, paling tidak karena ini bisa menjadi hal yang ‘menarik’ bagi sekelompok orang jahat.
Presiden AS Barack Obama berjanji pada tahun 2009 untuk mengamankan bahan nuklir yang rentan di seluruh dunia dalam waktu empat tahun: tidak ada tugas kecil, mengingat bahwa IAEA memperkirakan bahwa jutaan sumber radioaktif telah didistribusikan selama 50 tahun terakhir.
Rusia minggu ini menandatangani perjanjian untuk menyediakan dana $ 6,5 juta untuk pendanaan kemanan nuklir IAEA, yang digunakan untuk rencana keamanan nuklir di manapun bahan nuklir atau radioaktif digunakan. Sementara itu, Itar-Tass melaporkan bahwa Amerika Serikat dan Jepang sedang dalam proses pembentukan sebuah kelompok gabungan baru untuk mengembangkan teknik untuk memerangi perdagangan gelap zat radioaktif. US Department of Energy’s National Nuclear Security Administration (NNSA) memiliki peran mengamankan bahan radiologi di Amerika Serikat. Off-Site Source Recovery Program (OSRP) sejauh ini telah memulihkan lebih dari 25.000 lisensi sumber tak terpakai dan tidak diinginkan.

sumber: World Nuclear News, 10 Desember 2010

Kebijakan Energi Baru Terbarukan dalam Pembangunan PLTN di Indonesia

Bandung, 25 November 2010, di Hotel Aston Tropicana telah dilaksanakan pertemuan BATAN-KATN dalam tema, “STRATEGI PEMENANGAN PUBLIC ACCEPTANCE DALAM RANGKA PERCEPATAN PEMBANGUNAN PLTN I DI INDONESIA” tanggal 25 – 26 November 2010 dan dihadiri oleh Kepala BATAN, Deputi PHLPN, Sekretaris Utama BATAN dan Ketua KATN Dubes T.A. Samodra Sriwidjaja beserta anggota KATN serta tamu undangan dari Universitas Indonesia dan Kementrian Energi dan Sumber Daya mineral sebagai pembicara.

Pada sambutannya Kepala BATAN, mengatakan bahwa BATAN sudah lama mendapatkan bantuan dari IAEA, bantuan teknis ini mencapai tingkatan yang cukup tinggi di banding dengan negara berkembang lainnya,  hal ini juga diakui oleh DG IAEA pada saat pertemuan dengan Delegasi dari Indonesia di Viena Austria pada bulan September bulan lalu. Oleh karena itu dengan dorongan dari Kementerian Luar Negeri sudah saatnyalah kalau keterlibatan Indonesia di Lembaga International seperti IAEA harus sebagai negara pemberi bantuan (Teknologi) di banding dengan negara penerima teknologi.

Beberapa kegiatan besar akan dilakukan di tahun 2011, antara lain akan mulainya FS tapak di Propinsi Kepulauan Bangka Belitung, untuk itu sosialisasi PLTN akan dilakukan di sekitar calon tapak, sehingga dapat dapat dipahami oleh masyarakat tentang pembangunan PLTN di Indonesia sesuai dengan semangat yang ada dalam Instruksi Presiden RI no. 1 Tahun 2010.  Pada tahun depan juga akan dilaksanakan Nuclear Summit dimana semua stakeholder akan diundang termasuk NPP producer agar berpartisipasi dalam kegiatan tersebut dan akan dilaksanakan pula Seminar tentang PLTN dengan mengundang pendiri Greenpeace Mr. Patrick Moore serta rencana kunjungan DG IAEA ke Indonesia pada tahun 2011.

Pada acara pertemuan KATN ini pula, telah diadakan pemilihan ketua KATN untuk tahun 2011 yang memutuskan terpilihnya kembali Bapak Dubes T.A. Samodra Sriwidjaja.

Pada acara pembukaan ini, pembicara dari Universitas Indonesia yaitu Prof.Dr. Ibnu Hamad meenyampaikan paparannya dengan tema “Signifikansi dan Optimalisasi Komunikasi untuk Memperoleh Dukungan Publik pada PLTN”.  Strategimya ialah untuk memberikan informasi yang mendasar dan lengkap serta mudah dipahami kepada para opinion leader seperti anggota DPR, DPD, DPRD, LSM, Akademisi mengenai arti penting PLTN (interpersonal communications) seperti membuat buku cetak biru tentang pendirian PLTN yang dikemas secara eksklusive, menyiapkan tim lobby untuk melakukan pendekatan pribadi dengan opinion leader pada pertemuan khusus serta Mass Communications yaitu memberikan pengetahuan yang penting mengenai pemanfaatan PLTN bagi kehidupan masyarakat secara pendekatan impersonal secara langsung kepada khalayak ramai/sasaran, seperti membuat advertorial di media massa (Koran, majalah dan web), menayangkan iklan layanan masyarakat di TV dan radio serta mengembangkan opini public melalui kegiatan pemberitaan.
Pembicara kedua, Direktur Pengkajian Energi Universitas Indonesia, Prof. Dr. Iwa Garniwa MK.MT menyampaikan paparan dengan tema “Peran PLTN dalam menghadapi Krisis Energi Listrik di Indonesia” dalam kondisi geografis Indonesia di mana sebagian besar ditangani oleh system kelistrikan kecil dan terpisah sehingga tidak efisien. Kondisi ini merupakan tantangan bagi sarana dan prasarana penyediaan tenaga listrik yang ekonomis dan efisien dan masih diperlukan subsidi pemerintah yang cukup besar, energi baru terbarukan belum optimal oleh karena harganya belum dapat bersaing dengan jenis fosil yang harganyadi subsidi.

Pembicara dari Direktorat jenderal Energi Baru terbarukan dan Konservasi Energi Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral Ibu Ir. Maryam Ayumi menyampaikan tema “Kebijakan Energi Baru terbarukan dalam Pembangunan PLTN di Indonesia” pada kondisi saat ini, termasuk perlunya energi nuklir digunakan untuk mendukung visi 25/25 energi baru terbarukan.

sumber: BATAN

PLTN Bisa Meningkatkan Daya Saing Bangsa

Energi nuklir,jika mendengar kata ini orang akan langsung berpikiran negatif, wajar saja karena dengan pengalaman kejadian musibah Chernobyl, membuat masyarakat menjadi takut. Tapi tau kah anda, ternyata nuklir itu bisa menjadi energi alternatif yang bukan hanya sebagai energi bersih, juga bisa meningkatkan pendapatan perkapita suatu negara. Bukti nyata, Korea Selatan yang sekarang menjadi salah satu negara industri maju, tidak terlepas dari kontribusi energi nuklir,  dimana PLTN telah memicu peningkatan pendapatan perkapita Korea Selatan dari 1600 USD pada tahun 1980 ketika PLTN baru diperkenalkan, menjadi 16000 USD pada tahun 2005, ini berdasarkan data yang dipublikasikan oleh Badan Tenaga Atom Internaional (International Atomic Energy  Agency/ IAEA) tahun 2009.

Bayangkan seandainya Indonesia yang melakukan itu pada tahun yang sama, mengingat pada thun 1972 kita sudah menyiapkan pembangunan PLTN. Untuk diketahui, pendapatan perkapita RI pada 1980 adalah sekitar 500 USD, dan pada 2005 adalah sekitar 1500 USD, atau hanya naik  3 kali lipat, padahal Korea Selatan dalam rentang waktu yang sama naik 10 kali lipat. Dengan penguasaan teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) modern yang semakin canggih, selamat dan damai telah berakibat positif terhadap daya saing suatu bangsa.

nuclear-power-plant cm

Sebentar lagi, bukan saja Korea Selatan yang menggunakan nuklir, negara asia lain seperti Uni Emirat Arab (UEA) dan Vietnam juga sudah mulai melirik energi ini. Guna merealisasikan penggunaannya,  UEA menerima penawaran konsorsium yang dipimpin perusahaan utilitas Korea (KEPCO) untuk menyuplai listrik sebesar 1400 MWe menjelang tahun 2020. Kerjasama ini menandai pertama kalinya  sebuah negara nuklir baru memenangkan kontrak pembangunan PLTN, dan munculnya Korea Selatan sebagai negara pengekspor PLTN. Sementara itu, Vietnam belum lama ini menandatangani kesepakatan dengan Rusia untuk menuju ke penggunaan PLTN dengan teknologi negeri beruang merah itu. Vietnam sendiri di berbagai forum sudah mengklaim akan menjadi negara ASEAN pertama yang menggunakan listrik nuklir.  

Lalu apa yang mendorong negara-negara tersebut melirik nuklir sebagai energi alternatif?
Kombinasi pertumbuhan penduduk dan industri ditengarai akan mengakibatkan meningkatnya konsumsi listrik dunia menjadi dua kali lipat pada tahuan 2030,padahal di sisi lain sejumlah pembangkit yang ada harus diremajakan.  Sementara itu, meningkatnya kebutuhan akan air bersih menghendaki adanya pabrik desalinasi yang intensif-energi, kendaraan yang ramah-lingkungan akan meningkatkan permintaan listrik baseload, dan dalam jangka panjang produksi hidrogen untuk transportasi akan membutuhkan listrik dan panas industri dalam jumlah yang sangat besar. Energi nuklir yang bersih dan mampu menyuplai energi dalam skala besar dinilai paling pas untuk memenuhi keperluan itu. Sementara semakin mahal dan rentannya harga bahan bakar fosil (migas dan batubara) telah semakin meningkatkan keekonomian nuklir. 

Banyak hasil studi menunjukkan bahwa energi nuklir adalah sumber energi yang paling efektif-biaya (cost-effective) di antara teknologi base-load yang ada. Selain itu, digalakkannya reduksi emisi karbon melalui berbagai bentuk insentif dan skema perdagangan karbon, pada akhirnya akan meningkatkan keuntungan ekonomis nuklir.  Kelebihan uranium terhadap bahan bakar fosil adalah rasio komponen biaya bahan bakar terhadap biaya produksi yang sangat kecil, hal ini akan sangat menguntungkan dalam jangka panjang, karena sebagian besar biaya itu adalah untuk biaya modal. Hal ini dapat membantu stabilitas TDL dalam pasar yang sudah dideregulasi. 

Tetapi keberhasilan suatu program energi nuklir tidak terlepas dari dukungan masyarakat yang baik. Dewasa ini, lebih dari 66% masyarakat dunia meyakini bahwa negaranya harus mulai atau meningkatkan penggunaan PLTN. Hal ini dilaporkan oleh lembaga konsultasi manajemen SDM global Accenture yang melakukan survey terhadap 10.000 responden di 20 negara, tahun lalu. Sekitar 29% responden menyatakan dukungan mereka itu muncul atau meningkat dibandingkan 3 tahun lalu. Di sisi lain, 19% responden mengatakan sebaliknya.  Dari mereka yang disurvey, 88% mengatakan penting bagi negara mereka untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil. Sekitar 43% meyakini bahwa energi terbarukan saja tidak akan dapat mengisi gap  yang ditinggalkan bahan fosil, sedangkan 39% mengatakan sebaliknya. Nuklir dianggap oleh 43% responden sebagai jalan terbaik untuk menggapai masa depan rendah-karbon. Kenaikan penerimaan terhadap nuklir itu akibat kekhawatiran akan masalah ketahanan energi, kerentanan harga bahan bakar fosil (migas dan batubara), dan ancaman pemanasan global.   Accenture menambahkan transparansi informasi adalah penting bagi masyarakat, dan pandangan mereka dapat berubah cepat dengan informasi yang diperoleh.

Secara geografis, dukungan terbanyak terhadap PLTN sebagai cara mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, baik secara sendiri maupun dibaurkan dengan energi terbarukan,  dijumpai di India (67%), China (62%), Amerika Serikat (57%), and Afrika Selatan (55%). Khusus di Amerika Serikat, lembaga survey Gallup pada bulan Maret 2010 menemukan dukungan terhadap nuklir sebesar 62%, meningkat dari 59% tahun lalu. Inilah kali pertama dukungan terhadap PLTN di AS melampaui angka 60% sejak pertamakali dilakukan survey oleh Gallup tahun 1994. Hasil survey di luar negeri itu, sedikit-banyaknya mirip dengan hasil survey yang diperoleh  tim independen dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Pakar komunikasi Universitas Indonesia (UI), Ibnu Hamad yang bertindak sebagai konsultan tim memaparkan bahwa 57,6 persen responden menerima rencana pembangunan PLTN di Indonesia dengan alasan mampu menjaga kestabilan pasokan energi. Jajak pendapat dilakukan pada pertengahan 2010 di Jawa dan Bali dengan 3.000 responden terdiri atas anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), tokoh masyarakat, pendidik dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).

Namun begitu, Ibnu memandang sosialisasi masih kurang dan pemberitaan yang berimbang mengenai PLTN masih belum terjadi. Sajian yang keliru dan simpang-siur dapat mengakibatkan persepsi yang salah mengenai nuklir.  Menurut Ibnu, hasil ini memang di luar dugaan, bahkan di daerah yang dikabarkan menolak PLTN tingkat penerimaannya cukup besar. Ia yakin seandainya sosialisasi dilakukan lebih luas maka tingkat penerimaan nuklir akan lebih baik. Dari yang disurvey itu, 24,6 persen menolak PLTN dan 17,8 persen menjawab tidak tahu.

Sedangkan dari Laporan Direktur Jenderal IAEA , Yukio Amano pada Konferensi Umum IAEA ke 54 di Vienna akhir September 2010, menyatakan bahwa pada 21 Juli 2010 ada 61 unit PLTN yang sedang dalam tahapan konstruksi di seluruh dunia. Pada tahun 2008 telah dimulai pembangunan 10 PLTN baru, dan pada tahun 2009, 12 PLTN baru, semuanya terletak di Asia (China, India dan Korea Selatan). Laporan ini juga menyebutkan bahwa per 10 September 2010, terdapat  441 unit Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) yang beroperasi di 29 negara dan menyumbang sekitar 14% listrik dunia.

sumber: BATAN

Pentingnya Link Exchange terhadap Popularitas Situs/Blog

Di dikalangan blogger, link exchange merupakan suatu hal yang sangat penting untuk mendongkrak popularitas blog mereka di mata search engine. Dan begitu pula dengan saya yang masih newbie tidak memungkiri ingin agar website saya berada di posisi atas search engine.

Link exchange atau bisa disebut tukar link dengan situs atau blog lain sangat mempengaruhi Pagerank. Terlebih lagi dengan search engine yang satu ini (Google) yang merupakan search engine yang membawa ribuan bahkan jutaan blogger di dunia kepada visitor. Maka tak heran bila popularitas di Google menjadi acuan terhadap tingkat popularitas dunia maya.  Lalu apa itu pagerank, tak lain adalah salah satu acuan mengukur tingkat popularitas blog/web kita di dunia maya khususnya di Google. Google memberikan peringkat terhadap setiap situs atau blog dengan melihat seberapa banyak link dari dan terhadap situs atau blog yang bersangkutan atau backlink, sehingga hal ini akan memudahkan Google dalam melakukan pencarian. Tentunya, bila suatu web mudah ditemukan maka tak heran bila web tersebut akan tampil di psosisi teratas hasil pencarian (untuk kata kunci yang sesuai dengan yang diberikan).

Perumpaannya seperti ini,  bila situs anda misalkan situs A melakukan pertukaran link dengan situs B, maka secara otomatis akan terjadi pertukaran link yang saling berkaitan dan biasa disebut sebagai “follow” atau backlink. Lalu dengan adanya tautan tersebut, ada dua arah tautan yang terjadi dari A ke B dan dari B ke A. Kedua hal tersebut lebih dikenal sebagai inbound link dan outbond link. Indound berarti tautan dari situs lain ke situs kita dan sebaliknya outbond link.  Semakin banyak backlink yang diperoleh melalui pertuakran link tadi, maka akan semakin banyaknya pula inbound dan outbund yang diperoleh.

Namun ada hal yang perlu diperhatikan ketika melakukan link exchange untuk memeperoleh backlink sebanyak mungkin, yaitu sebaiknya jumlah inbound lebih besar dari outbound. Beberapa sumber mengatakan outbound link yang lebih besar menurunkan pagerank. Biasanya masalah itu timbul di kebanyakan situs/blog yang mengkonfigurasi komentar dan banyak SPAM yang masuk dan disetting agar crawler bot search engine mengikuti dari link tersebut atau yang lebih dikenal sebagai do follow. Dengan setting ini, crawler akan mencatat setiap link yang masuk ke situs yang bersangkutan dan mengikuti link yang diberikan, sehingga outbound link menjadi besar. Hal ini di kalangan blogger disukai untuk mendapatkan jumlah visitor yang besar. Karean blogger lain dapat memperoleh backlink gratis hanya dengan memberikan komentar. :D. Hal ini akan merugikan blog yang diberikan komentar berdasarkan alasan di atas. Terlebih lagi bila backlink yang ia punya masih kecil.

Hal ini diatasi apabila komentar tersebut di setting “NOFOLLOW” dan jangan di setting “DOFOLLOW“. Bilamana situs/blog anda sudah mempunyai backlink yang sangat banyak dan mempunyai pondasi yang kuat yang ditandai dengan pagerank yang tinggi, barulah anda menyetting “DOFOLLOW“ sehinngga blogger lain akan tertarik mengunjungi blog Anda sehingga akan menaikkan traffic situs/blog Anda.

Untuk itu saya membuka lowongan bagi Anda yang berkenan bertukar link dengan saya, terlebih lagi bila Anda sudah punya pagerank yang tinggi saya akan sangat berterima kasih sekali.. 😀

Bagi rekan-rekan blogger yang berkenan bertukar link silakan tinggalkan komentar di halaman berikut.

Hiroshima Peringati 65 Tahun Pemboman Amerika

Jepang mengadakan peringatan 65 tahun serangan bom atom Amerika ke dua kota di negara itu pada akhir perang dunia II hari ini dihadiri perwakilan banyak negara, dan untuk pertama kalinya pelaku serangan itu, Amerika Serikat.

Diadakan di Hiroshima, di mana pada 6 Agustus 1945 sekitar 100,000 orang mati dalam sekejap, walikota Tadatoshi Akiba mengatakan “Saatnya telah tiba bagi Jepang untuk memimpin upaya penghapusan senjata nuklir dengan membuat undang-undang soal tiga prinsip anti nuklir; pembatalan Janji Perlindungan Nuklir Amerika, mengakui secara hukum pertambahan luas kawasan yang terkena dampak serangan nuklir, dan menerapkan perawatan hibakusha (korban serangan Hiroshima dan Nagasaki) yang sudah tua di mana pun di dunia.”

Pidato itu disaksikan Duta Besar Amerika Serikat untuk Jepang John Roos, sebagai pejabat Amerika pertama yang resmi ikut serta dalam peringatan itu bersama perwakilan negara-negara asing termasuk Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Ban Ki-moon.

Menghencingkan cipta dimulai pukul 8:15 waktu setempat tepat saat “Little Boy” yang memuat 60 kilogram uranium-235 meledak sekitar 500 meter di atas kota itu 65 tahun lalu.

Kaisar Jepang saat itu Hirohito tidaklangsung menyerah, yang membuat Amerika Serikat menjatuhkan bom kedua di Nagasaki tanggal 9 Agustus.

Freeport Produksi Uranium Secara Diam-diam

Freeport diduga menggali bahan baku uranium secara diam-diam sejak delapan bulan silam, kata Yan Permenas Mandenas S.Sos Ketua Fraksi Pikiran Rakyat Dewan Perwakilan Rakyat Provinsi Papua kepada ANTARA di Jayapura, Selasa, di ruang kerjanya.

“Kegiatan ini dilakukan secara tersembunyi dan telah berlangsung cukup lama,” ungkapnya yang juga anggota Komisi C DPRDP.

Ia menambahkan, Freeport telah mencuri hasil kekayaan masyarakat Papua dan membohongi pemerintah dengan hasil tambang yang disalurkan lewat jaringan pipa-pipa bawah tanah.

“Selain emas, uranium juga diproduksi oleh Freeport,” tambahnya.

Informasi ini menurutnya, didapatkan dari sejumlah masyarakat dan karyawan Freeport di Timika.

“Selain karyawan dan masyarakat, saya juga mendapat laporan dari sumber yang dapat dipercaya,” tandasnya.

Hal ini sangat disayangkan mengingat pajak yang didapatkan dari perusahaan emas terbesar didunia ini, hanya berjumlah Rp30 milyar pada tahun lalu.

Mandenas juga mengeluhkan, bahwa dewan belum bisa bergerak karena terkendala masalah klasik, yaitu belum ada alokasi dana untuk turun ke lapangan.

“Kami belum bisa ke lapangan karena terkendala dana,” katanya.

sumber: ANTARA

Install Windows XP di netbook tanpa CD/DVD-ROM eksternal

Saat ini pengguna netbook semakin marak dan anemo masyarakat pun terhadap netbook semakin membaik, karena selain harganya yang relatif lebih murah juga karena netbook sekarang performanya sudah cukup memadai untuk kebutuhan dasar sebuah perangkat komputer seperti untuk kebutuhan office, berinternet, multimedia, bahkan untuk memainkan game-game sederhana yang tidak membutuhkan kemampuan grafis dan performa yang tidak terlalu tinggi.

Dalam hal ini pengguna netboook seringkali dipusingkan ketika akan melakukan instalasi sistem operasi di mana untuk melakukanya diperlukan optical drive CD/DVD-ROM, sedangkan netbook umumnya tidak dilengkapi dengan perangkat tersebut. Namun bisa saja Anda menggunakan optical drive eksternal teteapi Anda perlu merogoh kocek tambahan untuk hal ini. Nah, sekarang ini Anda pengguna pengguna netbook tidak perlu lagi pusing-pusing mencari optical drive eksternal ketika akan melakukan instalasai sistem operasi khususnya Windows XP.

Dengan perkembangan teknologi flash disk sekarang yang memiliki kapasitas semakin besar maka kita dengan mudah bisa menggunakan USB flash disk untuk melakukan instalasi windows , berikut hal yang perlu dipersiapkan untuk memulai instalasi windows XP di netbook kesayangan Anda.

1. USB Flash disk ( apa aja asalkan memiliki kapasitas minimal 1GB ).

2. Netbook yang akan diinstal

3. PC/Laptop master yang memiliki optical drive (CD-ROM atau DVD-ROM)

3. CD installer Windows XP (bisa original atau bajakan :D)

4. Software/program untuk modul installasi yang dapat memindahkan isi file-file instalasi dari CD ke USB Flasdisk dan bootable sehingga dapat dilakukan untuk instalasi windows XP. Software tersebut antara lain

USB_PREP8 (download)
PEtoUSB (download)

Sebenarnya ada banyak sekali software untuk ini, namun untuk sekarang saya bahas menggunakan dua program tersebut karena sudah saya buktikan sendiri berjalan.
setelah semua itu anda persiapakn Anda sudah bisa mulai untuk mempersiapkan USB Flasdisk yang bootable sehingga dapat dilakukan untuk instalasi windows XP.

Langkah selanjutnya sebagai berikut :

1. Colokan USB flash disk ke PC/Laptop master dan perhatikan posisi drivenya di windows explorer, apakah di F:, G:, H:, O: dan sebagainya

2. Extrak file2 yang diatas (yang sudah Anda download tadi), USB_PREP8 dan PEtoUSB kedalam satu folder misalkan C:/usb ( hasil extrak file USB_PREP8 jadi 1 folder, copy smua file dah pindahkan ke folder C:/usb) demikian juga file PEtoUSB.

3. Masukan CD Installer Windows XP kec CD-ROM atau DVD-ROM ke PC/laptop master.

4. Selanjutnya buka folder C:\USB yang sudah dibuat dan berisi file-file yang Anda ekstrak tadi.

5. Selanjutnya jalankan file bernama “usb_prep8.bat” lalu akan muncul sebuah windows command prompt berisi beberapa perintah
tekan sembarang tombol di keyboard untuk memulai.

6. Selanjutnya di layar komputer akan muncul program PEtoUSB yang meminta untuk memformat flash disk Anda, langsung klik start aja langsung.

7. Jika proses format sudah selesai, tutup program PEtoUSB ( tapi jangan tutup windows command prompt usb_prep8.bat ) di layar akan muncul opsi-opsi dari 0 hingga 5.

8. Selanjutnya pilih opsi ke 1 untuk memilih sumber file installasi windows ( pilih drive cd rom kamu aja yang berisi cd installan windows ) atau juga bisa folder yang berisi file2 source instalasi windows.

9. Kemudian Anda diminta untuk memilih opsi lain dan pilih opsi ke 3 untuk mentukan di drive mana flasdisk Anda terpasang, lihat dan sesuaikan dengan yang terlihat di windows explorer.

10. Setalah selesai kemudian Anda pilih opsi 4 untuk memulai proses menyalin isi file instalasi ke flashdisk. Jawab apa pun konfirmasi yang muncul dengan Y atau YES atau OK atau bentuk persetujuan lain. dalam proses ini akan memakan waktu yang cukup lama (mungkin lebih dari 15 menit)

11. Setelah proses di atas selesai Anda sudah memiliki flash disk yang bootable dan dapat digunakan untuk menginstall windows tanpa CD-ROM eksternal.

12. Cabutlah flash disk dari komputer master lalu colokkan ke netbook yang akan diinstall.

13. Nyalakan netbook lalu masuk ke BIOS (biasanya dengan menekan “F2” atau “del” tergantung netbook Anda), ubahlah setting boot sequence agar urutan pertama netbook anda booting melalui USB.
14. Setelah selesai simpanlah preferensi booting tersebut (biasanya dengan menekan tombol “F10” kemudian restart netbook Anda dan mulailah menginstall windows XP.

Selain untuk netbook flasdik tersebut dapat Anda gunakan juga untuk menginstall Windows XP di PC atau laptop lainya asalkan PC Anda support boot melalui USB.